Selasar

Kumpulan tulisan, igauan, dan mimpi-mimpiku

Arsip untuk ‘Perubahan Iklim’ Kategori

Konferensi Perubahan Iklim Copenhagen sebuah “moment of truth”

Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada Oktober 22, 2009

Logo COP 15Kurang lebih, sekitar 45 Hari lagi akan berlangsung Konferensi Perubahan Iklim PBB yang mungkin paling penting sepanjang sejarah disenggarakannya konferensi ini. Konferensi Perubahan Iklim ke 15 (atau COP 15) akan diselenggarakan di Copenhagen, Denmark, pada tanggal  7 Desember sampai 12 Desember 2009. Konferensi ini akan dihadiri sekitar 15000 perwakilan  anggota delegasi dari sekitar 192 Negara di dunia, termasuk para kepala negara dan kepala pemerintahannya.

Konferensi ini dianggap paling penting karena dalam konferensi ini diharapkan tercapai perjanjian baru yang menggantikan Protokol Kyoto, yang akan berakhir masa berlakunya pada tahun 2012. Konferensi ini juga sangat krusial perannya, karena semakin sedikitnya waktu yang tersisa bagi umat manusia untuk mengatasi dampak-dampak dari perubahan iklim global. Jika pada konferensi kali ini tak berhasil dicapai keputusan yang nyata, maka sudah bisa diperkirakan masa depan umat manusia akan sangat terancam karena berbagai dampak negatif dari perubahan iklim yang akan semakin dahsyat menghantam umat manusia.

Saat ini, sebagian besar  warga dunia telah menyadari, bahwa perubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi keberlangsungan peradaban umat manusia di planet bumi.  Mayoritas pemimpin negara di seluruh dunia juga telah menempatkan aksi memerangi perubahan iklim sebagai  prioritas utama program kerja mereka.

Laporan terakhir para ilmuwan yang tergabung dalam panel ahli perubahan iklim antar pemerintahan (IPCC) yang diluncurkan pada tahun 2007,  menyimpulkan dengan penuh keyakinan bahwa pemanasan global yang terjadi di planet bumi pada saat ini disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia, atau dengan kata lain perubahan iklim yang terjadi saat ini merupakan tanggung jawab  sepenuhnya umat manusia.

Deforestasi atau pengrusakan hutan, penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara di sektor energi dan transportasi merupakan aktivitas manusia yang merupakan penyebab utama meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Pemanasan global yang memicu perubahan iklim memberikan dampak negatif yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia di planet bumi, berbagai bencana  alam yang diduga terjadi akibat pengaruh dari perubahan iklim silih berganti menghantam berbagai negara di dunia. Peristiwa iklim yang paling anyar adalah Topan Ketsana dan Parma yang baru saja menghantam Filipina dan menewaskan hampir 1000 korban jiwa, bencana alam ini merupakan fakta tak terbantahkan bahwa saat ini perubahan iklim bukan lagi sekedar ancaman, tapi sudah nyata terjadi dan menimbulkan ancaman tak terperikan buat peradaban umat manusia.

Berbagai negara di dunia, telah merasakan dampak ekstrem dari perubahan iklim terhadap kehidupan mereka. Negara-negara kepulauan kecil di wilayah Pasifik Selatan, seperti Tuvalu, Vanuatu, dan Marshall Islands merupakan beberapa  negara kepulauan kecil yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan telah mengalami dampaknya. Bahkan sebagian dari rakyat Tuvalu dan Marshall Islands saat ini telah direlokasi ke Australia dan Selandia Baru karena beberapa bagian wilayah negara mereka telah tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim, dan saat ini mereka menyandang julukan sebagai  para pengungsi iklim yang pertama.

Melihat berbagai dampak menakutkan dari perubahan iklim terhadap kehidupan umat manusia.  Para pemimpin negara di dunia telah menyadari bahwa harus ada upaya-upaya nyata yang dilakukan secara bersama-sama untuk menghadapi fenomena global ini.

Konferensi PBB mengenai perubahan iklim atau dikenal juga dengan COP (Conference of The Parties) diselenggarakan setiap tahun. COP pertama kali, diselenggarakan di Berlin, Jerman pada tahun 1993.  Dalam setiap konferensi para perwakilan negara-negara di dunia bersidang dan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan dalam mengatasi perubahan iklim.

Protokol Kyoto

Pada COP ke 3 di Kyoto, Jepang. Para pemimpin negara di dunia menyepakati suatu perjanjian untuk mengatasi masalah perubahan iklim, perjanjian ini dikenal dengan nama Protokol Kyoto. Dalam Protokol ini disepakati bahwa negara-negara maju atau dikenal dengan negara Annex 1 harus mengurangi emisi Karbon di negara mereka sampai tingkat 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990. Periode berlakunya perjanjian ini adalah tahun 2008-2012.

Proses perjanjian ini sampai berkekuatan hukum sangatlah panjang dan melelahkan, karena pada awalnya banyak negara-negara maju yang merupakan kontributor utama gas rumah kaca menolak untuk meratifikasinya. Sementara itu, menurut syarat-syarat persetujuan perjanjian ini, Protokol ini akan mulai berlaku  pada hari ke 90 setelah tanggal dimana tidak kurang dari 55 negara, termasuk negara Annex 1, yang bertanggung jawab setidaknya 55% dari seluruh emisi karbon pada tahun 1990 meratifikasi perjanjian ini.

Protokol ini mulai berlaku dan mempunyai kekuatan hukum pada tanggal 16 Februari 2005, setelah Rusia meratifikasinya pada tanggal 18 November 2004.

Amerika Serikat dan Australia yang merupakan negara-negara industri maju dan penyumbang utama gas rumah kaca, menolak meratifikasinya. Sampai detik ini Amerika Serikat tidak meratifikasi Protokol Kyoto. Sementara itu, Australia, dibawah kepemimpinan Perdana Menterinya yang baru Kevin Rudd, akhirnya meratifikasi protokol penting ini pada tahun 2007, bertepatan dengan diselenggarakannya COP ke 13 di Nusa Dua, Bali, Indonesia.

Perjanjian Global Baru untuk Mengatasi Perubahan Iklim Sangat Dibutuhkan

Protokol Kyoto akan berakhir masa berlakunya pada tahun 2012. Dengan berakhirnya masa berlaku protokol ini, maka pada Konferensi di Copenhagen, Bulan Desember nanti sangat diharapkan tercapai berbagai keputusan yang kongkret dan berani dari para pemimpin dunia untuk mengatasi ancaman perubahan iklim global.

Pada pertemuan ini, diharapkan para pemimpin negara-negara yang berkumpul akan menyetujui beberapa hal antara lain:

  1. Perjanjian atau kesepakatan baru untuk melanjutkan Protokol Kyoto yang akan berakhir masa berlakunya.
  2. Komitmen dari negara-negara industri maju untuk mengurangi emisi karbon mereka secara signifikan.
  3. Komitmen dari negara-negara berkembang untuk membatasi emisi gas rumah kaca mereka.
  4. Tercapai kesepakatan oleh negara-negara maju untuk menyediakan pendanaan bagi negara-negara miskin dan berkembang untuk melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.

Pada akhirnya, jika  konferensi perubahan iklim Copenhagen gagal menghasilkan keputusan yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim, kita sebagai umat manusia harus bersiap-siap menghadapi berbagai bencana akibat perubahan iklim yang akan semakin dahsyat terjadi. Artinya, konferensi perubahan iklim di Copenhagen, bulan Desember mendatang, adalah konferensi yang menentukan “hidup-matinya” peradaban umat manusia.

Ditulis dalam Perubahan Iklim, Politik Global | Leave a Comment »

Indonesia dan Perubahan Iklim: Menunda Berakibat Bencana

Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada Agustus 31, 2009

Beruang Kutub

Siang itu, Minggu, 30 Agustus 2009, matahari sedang bersinar dengan sangat terik di atas Desa Krambilsawit, Saptosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan ember tampak bergeletakan diatas tanah kering kerontang yang pecah-pecah, pertanda sudah begitu lama tak tersentuh air hujan. Sementara itu, beberapa meter dari  tempat puluhan ember itu bergeletakan, tampak belasan ibu-ibu antre mengerumuni sebuah lubang kecil, sembari mencidukkan gayung yang disambung dengan tongkat kecil kedalam lubang tersebut.

Beberapa tahun belakangan ini, Masyarakat Desa Krambilsawit, Gunung Kidul, Yogyakarta, merasakan betapa menderitanya mengalami krisis air bersih, akibat kekeringan dahsyat yang mereka alami setiap musim kemarau. Kekeringan yang mereka alami  akan memuncak pada puncak musim kemarau, sekitar bulan Juli-September. Di saat seperti  itu, Telaga Miri, menjadi satu-satunya sumber air bersih bagi kebutuhan mereka sehari-hari. Namun, telaga yang berubah menjadi kubangan kering pada puncak musim kemarau itu, hanya menyisakan sedikit air, pada beberapa lubang kecil disekitar telaga. Lubang-lubang itulah yang dikerumuni oleh belasan ibu-ibu Desa Krambilsawit setiap harinya, lubang itu juga yang menjadi tumpuan bagi kebutuhan air mereka sehari-hari selama kemarau menggila.

Januari, 2008. Belasan jadwal pesawat yang seharusnya mendarat dan lepas landas dari Bandara Temindung, Samarinda, terpaksa dibatalkan. Banjir yang sudah terjadi sejak seminggu sebelumnya di Ibu Kota Kalimantan Timur itu tak kunjung surut, puluhan ribu orang harus mengungsi dari rumah mereka. Samarinda berubah menjadi kota petaka. Banjir besar yang biasanya terjadi  setiap 10 tahun sekali di kota itu, tiba-tiba menghantam Samarinda pada awal tahun 2008, lebih cepat dari biasanya, banjir yang tak pernah diperkirakan sebelumnya itu, mengakibatkan kerugian begitu besar bagi penduduknya. Diprediksi kerugian akibat bencana ini, mencapai puluhan miliar rupiah. Belum lagi korban jiwa, baik akibat dampak langsung ataupun tidak langsung. Kerusakan alam yang masif di Kalimantan Timur akibat aktivitas pertambangan batubara dituding menjadi penyebab utama bencana banjir yang terjadi di luar periode biasanya itu. Selain itu para pakar dan jajaran pemerintahan di provinsi itu menuding fenomena “el nino” lah yang menjadi biang keladi dari air bah ini.

Januari 2009. Sudah 2 minggu, Fransiskus Mooi, tidak juga bisa menyebrang ke Kupang dari kampung halamannya di Pulau Rote. Cuti natal dan tahun barunya yang hanya selama 10 hari, sudah habis sejak seminggu lalu. Frans takut akan dipecat dari pekerjaannya jika tak bisa juga menyebrang ke Kupang dalam 2-3 hari ini. Pak Wijaya induk semangnya, tentu tak akan mau mengerti kendala alam yang dialami Frans. Gelombang laut setinggi 5-7 meter membuat kapal-kapal ferry reguler yang melayani penyebrangan Rote-Kupang tak diijinkan beroperasi, risiko yang akan dihadapi akan sangat besar jika nekat beroperasi. Gelombang yang sangat tinggi ditambah badai laut yang sewaktu-waktu bisa terjadi akan membuat kapal ferry itu bagai kapas ditengah gelombang lautan. Peristiwa tenggelamnya kapal Ferry  Citra Mandala Bahari yang melayani Rote-Kupang tahun 2006 lalu, membuat trauma masyarakat, lebih baik menunggu gelombang laut reda lebih dahulu, ketimbang menantang maut.

Apa yang dialami oleh Fransiskus Mooi, sudah jamak dialami oleh masyarakat yang tinggal di kepulauan di wilayah NTT dan Maluku, pada setiap musim timur, yang terjadi pada bulan Desember-Februari.  Masyarakat pulau-pulau kecil di wilayah NTT dan Maluku yang sangat tergantung pada penyeberangan laut ini, merasakan betapa hidup mereka sangat ditentukan oleh gelombang laut. Sudah jamak terjadi, pemudik yang pulang kampung untuk merayakan natal dan tahun baru di kampung halamannya, tak bisa kembali tepat waktu ke kota tempat mereka bekerja karena badai dan gelombang laut yang tinggi membuat ferry  yang menjadi satu-satunya alat transportasi mereka tak bisa beroperasi. Bencana tenggelamnya kapal ferry yang nekat beroperasi , pada saat mengganasnya gelombang laut di wilayah negeri ini, menjadi bukti bahwa beberapa tahun belakangan ini kondisi cuaca laut semakin tak mudah ditebak, badai dan gelombang laut semakin sering terjadi dalam skala yang ekstrim.

Perubahan Iklim sedang menghantam kita

Puluhan laporan penelitian mengenai perubahan iklim telah dirilis dan diluncurkan baik secara global maupun secara nasional selama setahun terakhir ini. Semuanya membeberkan data-data dan fakta-fakta mengenai dampak dari perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan. Berbagai kalangan yang sebelumnya skeptis terhadap perubahan iklim, mau tak mau , terpaksa mengubah keyakinan mereka karena fakta-fakta mengenai dampak perubahan iklim yang begitu gamblang di hadapan mereka.

Para pakar perubahan iklim dunia yang tergabung dalam IPCC (Intergovernmental panel on Climate Change), bahkan mengaku mereka terkejut dengan laju perubahan iklim yang semakin cepat dan dampak perubahan iklim yang semakin dahsyat, jauh lebih cepat dan dahsyat dari perkiraan mereka sebelumnya. 

Global Humanitarian Forum, sebuah lembaga bentukan Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, meluncurkan laporan terbaru mereka yang menunjukkan fakta yang sangat mencengangkan. Menurut laporan itu, dampak dari perubahan iklim mengakibatkan korban jiwa sebesar 300.000 jiwa di seluruh dunia, setiap tahunnya, angka ini melonjak dua kali lipat dari laporan sebelumnya. Angka fantastis ini, juga menempatkan perubahan iklim sebagai ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup umat manusia di bumi ini.

ADB, pada sidangnya di Bali, bulan April lalu, merilis laporan yang bertajuk “The Economics of Climate Change in Southeast Asia”, dalam laporan ini ADB memaparkan data-data yang terkait dengan dampak perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara. Laporan ini menyebutkan Asia Tenggara merupakan kawasan di dunia yang paling rentan terhadap perubahan perubahan iklim, dan berisiko mengalami konflik akibat terjadinya kelaparan, krisis air bersih, dan potensi kerugian ekonomi yang tinggi di kawasan ini.

Perekonomian kawasan Asia Tenggara akan mengalami kerugian sebesar 6,7% dari total GDP kawasan pertahun, pada tahun 2100 nanti. Ini artinya kerugian yang ditanggung kawasan ini lebih dari dua kali lipat kerugian ekonomi yang ditanggung secara global.

Laporan ini juga menyebutkan Indonesia merupakan negara kontributor terbesar gas rumah kaca di kawasan, sekaligus merupakan negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di Asia Tenggara. Sekitar 56% emisi gas rumah kaca di Asia Tenggara, datang dari Indonesia. Selain itu Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian berbagai bencana yang diduga terjadi akibat perubahan iklim. Banjir, Kekeringan, Tanah longsor, dan meningkatnya prevalensi penyakit-penyakit tropis akan semakin sering terjadi di negara terbesar di kawasan ini.

Masih dalam tahun ini, EEPSEA (Economy and Environment Program for Southeast Asia), sebuah lembaga riset yang berbasis di Singapura. Meluncurkan laporan risetnya yang bertajuk “Climate Change Vulnerability Mapping in Southeast Asia”. Penelitian yang dilakukan oleh EEPSEA, bertujuan untuk mengukur dan memetakan tingkat kerentanan perubahan iklim di 530 kota di wilayah Asia Tenggara.  Hasil dari penelitian yang  menempatkan hampir semua kota besar di Indonesia sebagai kota yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Jakarta, sendiri, menempati urutan teratas dalam daftar kota yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di antara 530 kota di kawasan Asia Tenggara.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia, dalam SLHI (Status Lingkungan Hidup Indonesia) tahun 2008, memaparkan data yang sangat mencengangkan, menurut catatan KLH, di wilayah Indonesia sepanjang tahun 2008, tidak ada satu bulan pun, sejak Januari sampai Desember, yang bebas dari bencana-bencana yang diduga akibat perubahan iklim. Bencana-bencana yang terjadi sepanjang tahun 2008, menghantam berbagai kawasan di negeri ini. Mulai dari Banjir di Samarinda, Kekeringan di Gunung Kidul, sampai gelombang laut di wilayah timur Indonesia.

Fakta serta data hasil riset berbagai lembaga penelitian, menunjukkan dan membuktikan bahwa saat ini, Indonesia sedang menghadapi bencana perubahan iklim, negeri ini sedang dalam pusaran bencana iklim. Ancaman perubahan iklim bukan lagi isapan jempol, perubahan iklim bukan sekedar ancaman kosong. Dampaknya sedang terjadi  dan telah memakan korban jiwa.

Lamban Berakibat Bencana

Berbagai bencana akibat dampak perubahan iklim yang terjadi di negeri ini, mengharuskan kita semua mengambil langkah-langkah kongkret untuk ikut mengatasinya. Jika tak ada upaya nyata yang diambil, maka dampak dari perubahan iklim akan semakin dahsyat dan tak terbayangkan lagi tingkat kerusakannya.

Di tingkatan individu, langkah-langkah sederhana untuk ikut mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim, harus segera diambil. Penghematan penggunaan kertas, hemat energi, dan efisiensi energi adalah langkah paling mudah untuk berperan serta dalam mengatasi ancaman global ini.

Namun, langkah yang paling penting dan paling mendesak harus diambil oleh SBY sebagai pemimpin negeri ini. Jika tak ada juga komitmen politik dari pemerintahannya maka, negeri ini akan menghadapi berbagai bencana perubahan iklim yang semakin dahsyat.

Pemerintah SBY, harus segera sadar dengan krisis iklim yang sedang terjadi, dan karenanya SBY harus segera menunjukkan kepemimpinannya untuk berperan nyata dalam mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim yang dihasilkan negeri ini. Saat ini, Indonesia tercatat, sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ke-3 di Dunia setelah China dan Amerika Serikat.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia, sekitar 75% dihasilkan dari sektor hutan. Deforestasi masif yang terjadi di Indonesia mengakibatkan jutaan ton emisi gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer. Pembukaan hutan alam untuk perkebunan kelapa sawit, industri kertas dan bubur kertas, serta pertambangan batubara, membuat tingkat deforestasi semakin luar biasa. Menurut data FAO tahun 2007, laju deforestasi yang terjadi di Indonesia sebesar 1,8 Juta hektar pertahun. Atau setara dengan luas 300 lapangan bola dalam satu jam.

Selain deforestasi, sektor listrik juga merupakan kontributor dominan gas rumah kaca di negeri ini. Ketergantungan Indonesia terhadap batubara sebagai energi untuk penghasil listrik, membuat emisi yang dihasilkan dari sektor listrik menempati urutan kedua setelah deforestasi. Sayangnya, sampai saat ini tidak tampak upaya serius dari pemerintah RI untuk mengurangi ketergantungan negeri ini terhadap energi kotor batubara. Alih-alih, pemerintah bahkan membangun secara besar-besaran pembangkit listrik tenaga batubara di seloroh pelosok negeri ini.

Sampai sejauh ini, belum tampak upaya sungguh-sungguh dari Pemerintahan SBY dalam mengambil langkah kongkret dalam mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim di negeri ini. Meskipun dalam beberapa kesempatan SBY, telah berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari Indonesia. Yang paling anyar adalah janji SBY di pertemuan pemimpin G8 tahun lalu di Jepang, dalam pertemuan tersebut, SBY berjanji akan mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi di Indonesia, sebesar 50% pada tahun 2009, 75% pada tahun 2012, dan 95% pada akhir tahun 2025. Angka yang luar biasa fantastis ini tentu menggembirakan kita, karena menunjukkan komitmen SBY untuk ikut serta dalam mengatasi ancaman perubahan iklim.

Namun, bukannya diterjemahkan dalam berbagai kebijakan yang mendukung komitmen SBY, alih-alih kabinet dalam pemerintahan SBY justru mengeluarkan kebijakan yang bertolak belakang dan bahkan terkesan meremehkan janji SBY tersebut. Kebijakan paling anyar datang dari Menteri Pertanian yang mengijinkan pembukaan lahan gambut untuk kelapa sawit, kebijakan ini jelas sekali meremehkan komitmen SBY untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di negeri ini. Karena dengan mengijinkan pembukaan lahan gambut untuk industri kelapa sawit, sama artinya dengan  sengaja melepaskan cadangan raksasa gas rumah kaca yang selama ini tersimpan dalam lahan gambut. Kebijakan lain datang dari Departemen ESDM dan PLN, yang  sedang membangun secara besar-besaran puluhan pembangkit listrik tenaga batubara di seluruh pelosok negeri ini.

Kelambanan serta kurangnya komitmen dari pemerintah SBY dalam mengatasi krisis iklim akan menyebabkan laju perubahan iklim semakin cepat, dan dampak-dampaknya semakin sering terjadi di berbagai wilayah di negeri ini.

Sikap lamban, dan janji-janji palsu, sama sekali tak punya tempat dalam upaya mengatasi ancaman perubahan iklim. SBY harus sadar, bahwa dia tidak lagi sedang berkampanye, yang dibutuhkan sekarang adalah langkah nyatanya bukan lagi janji-janji kosong khas politisi.  SBY harus paham sikap menunda-nunda dan lamban akan berakibat bencana bukan Cuma bagi negeri ini tapi juga bagi seluruh umat manusia. Filosofi Jawa biar lambat asal selamat (Alon-alon asal kelakon) mestinya dibuang jauh-jauh dalam konteks mengatasi krisis iklim ini.

Ditulis dalam Lingkungan, Perubahan Iklim | 1 Komentar »

Tambora: Ziarah ke Gunung dengan Letusan Terbesar Sepanjang Sejarah Umat Manusia

Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada Agustus 27, 2009

TamboraKelelahkan dalam pendakian selama hampir 18 Jam dengan menempuh jarak sekitar 25 km untuk mencapai Kaldera Kawah Tambora, hampir tak terasa sama sekali ketika mata saya menatap langsung  keindahan salah satu kawah kaldera terluas di dunia itu. Saat itu arloji saya menunjukkan pukul 13.00 siang, menurut pemandu kami, dalam kondisi normal,  antara pukul 13.00-15.00 kabut tebal  biasanya akan menutupi pandangan kita ke dasar kaldera. Namun, anehnya hari itu kabut seperti sedang bersahabat dengan rombongan kami, dengan mata telanjang kami dapat menikmati keindahan Kaldera Tambora sampai ke dasarnya. Bahkan saya bisa melihat langsung  dasar kaldera untuk mengamati aktivitas Doro Api Toi –Kepundan berbentuk kerucut yang muncul pasca letusan Gunung Tambora– yang sedang memenyemburkan percikan-percikan api  dari kepundannya.

Pak Sumantri, pemandu kami,  berkali-kali mengingatkan agar kami tidak berdiri atau duduk  terlalu dekat dengan bibir kawah, karena pasca gempa bumi yang menghantam Dompu  dan sekitarnya tahun 2008 lalu, bibir kawah Tambora semakin rentan longsor.

Puncak Tambora tampak begitu gagah menjulang disebelah timur kami, langit biru tanpa kabut semakin menambah kegagahan Puncak Tambora. Setelah mengambil beberapa foto dan puas menikmati keindahan kaldera Tambora, kami bergerak menuju Puncak Tambora, tujuan akhir dari pendakian ini.

Tambora merupakan salah satu gunung di Indonesia yang paling tersohor di dunia karena  sejarah dan berbagai keunikan yang dimilikinya. Tambora tercatat merupakan gunung dengan letusan terbesar dan mengeluarkan bunyi letusan terkeras sepanjang sejarah umat manusia. Suara letusannya terdengar sampai  Singapura, dan Sumatera yang jaraknya ribuan kilometer dari Pulau Sumbawa. Abu vulkaniknya mencapai Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan yang terjadi pada Bulan April tahun 1815 ini menimbulkan korban jiwa sekitar 92.000 orang, sebuah angka yang sangat luar biasa mengingat pada masa itu jumlah penduduk Pulau Sumbawa dan Lombok hanya sekitar 300.000 jiwa.

Yang paling fantastis, letusan Tambora mengakibatkan terjadinya perubahan musim dan cuaca di dunia. Satu tahun setelah Letusan Tambora, tahun 1816, dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” karena perubahan cuaca drastis di Amerika Utara dan Eropa, akibat debu vulkanik yang dihasilkan Tambora. Perubahan cuaca yang drastis ini berakibat banyak panen yang gagal dan kematian ternak di belahan bumi bagian utara, yang memicu terjadinya bencana kelaparan terburuk pada abad ke-19. Letusan Tambora juga mengubah sejarah politik dunia, karena mengakibatkan Kekalahan Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte pada Bulan Juni 1815 pada pertempuran di Waterloo. Kekalahan Napoleon ini lebih disebabkan oleh kondisi cuaca yang sangat buruk dan ekstrim yang terjadi di Eropa akibat pengaruh letusan Tambora, alih-alih karena ketangguhan dan kekuatan bersenjata dari Wellington dan pasukannya

Gunung Tambora, terletak di dua kabupaten di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut terletak di wilayah Kabupaten Dompu, sedangkan lereng sisi selatan hingga barat laut dan kaki hingga puncak di sisi timur dan utara terletak di Kabupaten Bima. Meskipun Tambora sangat tersohor di dunia, namun jika dibandingkan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, dan Gunung Semeru di Jawa Timur, Tambora masih belum begitu banyak dijadikan tujuan pendakian oleh para pendaki gunung dan pecinta alam baik domestik maupun manca negara.

Sarana transportasi yang terbatas, dan akses jalan yang sangat buruk menuju desa terdekat  ke kaki Tambora, membuat para pendaki harus berpikir berulang kali sebelum memutuskan mendaki Gunung Tertinggi di Pulau Sumbawa ini.

Untuk mendaki Tambora hanya ada satu jalur yang dikenal dan biasa digunakan para pendaki, yaitu melalui Jalur Desa Pancasila. Ada jalur lain melalui Desa Doro Mboha, atau lebih dikenal dengan Jalur Bupati, jalur ini bisa dilewati mobil jeep dan mobil bergardan ganda lainnya, dan hanya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke kalderanya. Namun, Jalur Bupati ini, tidak biasa digunakan oleh para pendaki.

Pada awalnya, rombongan kami sendiri berencana mendaki Tambora melewati jalur konvensional ini, namun beruntung, ketika kami sedang menunggu bis di Terminal Ginte, Dompu, setelah menempuh perjalanan darat menggunakan bus  malam selama 13 Jam dari Mataram, Kami didatangi oleh seorang bapak-bapak setengah baya yang ternyata seorang pemandu senior dan sesepuh bagi para pendaki di Pulau Sumbawa.

Bang  Adun, nama lelaki setengah baya itu, dia menyapa kami dengan ramah, setelah berbincang hangat beberapa saat dia memberitahu kami bahwa selain jalur Desa Pancasila, masih ada Jalur lain menuju Puncak Tambora, yaitu melalui jalur Desa Doro Peti. Setelah berdiskusi dengan anggota rombongan lain, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Tambora dengan naik melalui jalur Desa Doro Peti dan turun melalui Desa Pancasila. Bang Adun sendiri, belum pernah melalui jalur ini, namun dia memberi nama seorang pemandu lokal yang bisa menggunakan jalur  Desa Doro Peti. 

Doro Peti-Kaldera-Puncak  dan Pembalakan Liar di Lereng Tambora

Perjalanan hari pertama kami  mulai pukul 07.30 pagi dari desa Doro Peti, dalam perjalanan kami melewati Dusun Gunung Sari,  dusun terakhir sebelum mencapai tepian hutan Gunung Tambora. Mayoritas penduduk Dusun Gunung Sari  bukanlah masyarakat asli Dompu, sebagian besar mereka merupakan transmigran asal  Pulau Lombok, kebanyakan mereka masih menggunakan Bahasa Sasak dalam komunikasi sehari-hari.

Ketinggian Doro Peti sekitar 240 meter Dpl (Diatas Permukaan Laut). Dari Dusun Gunung Sari menuju pintu hutan, kami melewati hutan yang kondisinya dalam keadaan sangat memprihatinkan, di beberapa titik terlihat tumpukkan kayu-kayu siap jual hasil pembalakan liar. Dari jauh terdengan raungan gergaji mesin yang sedang menebangi hutan, menurut pemandu kami, pihak yang melakukan pembalakan liar adalah masyarakat sekitar Dusun Doro Peti, dan hanya dalam skala kecil untuk pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari. Namun menurut Bang Adun, sesepuh pendaki gunung di Tambora,  pembalakan liar yang terjadi di wilayah cagar alam di Lereng Tambora, dilakukan secara sistematis oleh cukong-cukong besar dan mustahil bisa terjadi tanpa sepengetahuan pemerintah Kabupaten Dompu dan Bima. Melihat skala kerusakan yang terjadi dan tumpukan-tumpukan kayu hasil pembalakan liar, saya percaya sepenuhnya dengan apa yang diucapkan oleh Bang Adun.

Setelah berjalan kaki hampir 3 Jam dari Doro Peti, tiba-tiba dari arah belakang terdengar  derum mesin kendaraan yang menuju ke arah kami, setelah kami tunggu beberapa saat, ternyata bunyi mesin itu datang dari truk yang akan mengangkut kayu hasil pembalakan liar yang tersusun rapi di pinggir jalan yang kami lewati. Awalnya, kami enggan untuk menumpang truk tersebut, namun atas desakan Pak Sumantri dan mengingat waktu yang semakin siang, kami memutuskan untuk menumpang truk tersebut sampai ke pintu hutan. Ternyata jarak ke pintu hutan tidak begitu jauh lagi dari tempat kami menaiki truk, hanya sekitar 15 menit di dalam truk akhirnya kami sampai di pintu hutan.

Tepat jam 12.00 siang kami memutuskan beristirahat makan siang di tempat yang biasa digunakan sebagai podok istirahat oleh masyarakat lokal yang sedang berburu rusa dan ayam hutan di hutan lereng Tambora. Tempat itu biasa disebut Pondok Berburu. Di tempat itu juga kami mengisi jerigen dan botol-botol air kami untuk kebutuhan air selama pendakian.

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan, kali ini jalur yang kami lewati cukup menantang, tanjakan-tanjakan yang panjang mulai sering kami lewati, hutan pun semakin lebat. Beberapa kali sepanjang jalan, saya melihat ular yang sedang melintas di jalur yang kami lewati. 

Bunyi kepak sayap ayam hutan yang terbang, karena mencium keberadaan kami juga sering terdengar. Beberapa anggota rombongan mulai merasa kelelahan, dan mengeluhkan susahnya jalur ini. Saya sendiri harus mengakui jalur Doro Peti ini bukanlah jalur yang mudah, dan bukan jalur yang tepat untuk digunakan pendaki pemula. Selain jalurnya yang panjang dan banyak tanjakan, jalur ini juga minim sumber air, karena itu dibutuhkan stamina prima dan semangat tinggi untuk melewatinya.

Selepas makan siang perjalanan kami lanjutkan non-stop dengan kesepakatan akan berhenti  pukul 05.00 sore di Cemara Tujuh, batas vegetasi antara hutan dan kaldera tambora. Namun karena kondisi fisik anggota rombongan yang tidak sama, dan jalurnya yang memang  panjang. Pada pukul 05.00 Sore, rombongan terdepan baru sampai pada Cemara Satu. Kami memutuskan mendirikan tenda disana, karena setelah kita tunggu sampai gelap anggota rombongan yang lain belum juga sampai di lokasi itu, dan akan sangat riskan jika meneruskan pendakian ke Cemara Tujuh di malam hari.

Beruntung sekali persediaan air kami masih cukup untuk memasak dan menyeduh kopi  malam ini. Di Cemara Satu, lokasi pendirian tenda kami malam ini, tidak terdapat sumber air, sumber air terakhir sebelum puncak baru dapat ditemukan lagi di Cemara Tujuh. Selain persediaan air yang cukup, kami juga diuntungkan dengan suhu udara yang tak terlalu dingin malam itu, akhirnya setelah selesai makan malam dan sedikit obrolan canda, kami masuk ke tenda masing-masing, beristirahat,mengumpulkan tenaga untuk pendakian ke puncak esok hari.

Keesokan paginya, setelah sarapan dan minum kopi, tepat pukul 08.00 pagi kami melanjutkan perjalanan. Ternyata keputusan kami tadi malam untuk beristirahat di Cemara Satu, tepat sekali, karena sepanjang perjalanan menuju Cemara Tujuh, kami harus melewati tanjakan-tanjakan curam dan terjal, sementara dibeberapa titik kita harus melipiri punggungan yang di sebelah kiri atau kanannya terdapat jurang yang cukup dalam. Terlalu riskan jika melewati jalur ini dalam kondisi gelap.

Tepat jam 01.00 siang, kami mencapai Kaldera Tambora. Salah satu kawah terbesar di dunia, pemandangan Kaldera Tambora yang amat menakjubkan membuat hampir semua anggota rombongan terbelalak, dan membuat kelelahan yang kami rasakan selama pendakian  seperti terbayar lunas.

Seorang teman mengamati jejak-jejak kecil di pasir dekat bibir kawah, dari jejaknya dia menduga itu adalah jejak seekor kijang gunung. Pemandu kami memastikan bahwa jejak itu memang merupakan jejak kijang gunung setelah ia mengamatinya lebih teliti.

Pemandangan fantastis dari Kawah Tambora, membuat kami betah berlama-lama disana, namun karena hari semakin senja sementara Puncak Tambora seperti menantang untuk segera didaki, setelah puas mengambil gambar, kami  segera bergerak menuju Puncak Tambora. Tujuan dari pendakian ini.

Pukul 15.30, seluruh rombongan sampai di puncak, setelah melewati medan yang cukup sulit dan melelahkan. Namun, semua kelelahan seperti sirna, terbayar lunas, karena akhirnya kami bisa mencapai puncak gunung bersejarah ini. Puncak Tambora sendiri hanya berketinggian 2851 meter dpl, membuat tambora tidak masuk kedalam tujuh puncak gunung tertinggi di Nusantara, namun medannya yang sulit dan panjang membuat tingkat kesulitan tambora masih diatas Rinjani atau Argopuro. Sebelum meletus Gunung Tambora diperkirakan berketinggian sekitar 4300 meter, menjadikan Tambora sebagai Puncak tertinggi di Nusantara di masa itu. Namun pasca letusan yang menumpahkan jutaan kubik magma dan debu vulkanik mengakibatkan ketinggian Tambora terpapas hampir 1500 meter, dan menciptakan kawah seluas 7 km2 dan kedalaman kaldera sekitar 1000 meter. Berdasarkan fakta-fakta ini, kita dapat membayangkan betapa dahsyatnya letusan Tambora di bulan April tahun 1815 itu.

Setelah puas menikmati keindahan dan kegagahan Tambora dari puncaknya, serta mengambil beberapa foto , kami segera bergerak turun melewati jalur Desa Pancasila. Sembari menyusun rencana pendakian berikutnya setelah Tambora. Masih begitu banyak gunung di Nusantara yang harus didaki, masih begitu melimpah pelajaran dan kebijakan yang harus kita pelajari dari alam.  “Alam takambang jadi guru” begitu menurut postulat Minang, dan saya setuju sepenuhnya dengan postulat itu.

Ditulis dalam Catatan Perjalanan, Perubahan Iklim | 2 Komentar »

Pemerintah Indonesia dan Perubahan Iklim

Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada Mei 19, 2009

Deforestasi Masif untuk Pembukaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat

Awal Bulan Mei lalu, bertepatan dengan pertemuan tahunan Dewan Gubernur Bank Pembangunan Asia (ADB) di Bali. ADB meluncurkan hasil studi terbarunya yang bertajuk “The Economics of Climate Change in Southeast Asia : A Regional Review”. Laporan studi ini memaparkan permasalahan perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara dan kaitannya dengan perekonomian kawasan.

Berdasarkan studi  ADB, Kawasan Asia Tenggara memproduksi sekitar  12% emisi gas rumah kaca dari total produksi gas rumah kaca di seluruh dunia pada tahun 2008.Dengan trend pertumbuhan ekonomi yang positif  dan populasi penduduk yang besar, maka diperkirakan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Asia Tenggara akan semakin meningkat dalam beberapa tahun mendatang. 

Indonesia sebagai negara dengan wilayah terluas dan  memiliki populasi penduduk terbesar  di Asia Tenggara merupakan kontributor terbesar gas rumah kaca di kawasan ini, lebih dari 58% emisi gas rumah kaca di Asia Tenggara datang dari Indonesia. Selain sebagai penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di kawasan, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak-dampak dari perubahan iklim. Berbagai bencana yang terkait dengan perubahan iklim telah terjadi hampir di seluruh wilayah negeri ini. Mulai dari banjir, kekeringan, tanah longsor, badai tropis, sampai meningkatnya prevalensi penyakit-penyakit tropis yang yang terkait dengan perubahan iklim, seperti malaria, demam berdarah, dan diare .

Menurut data dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, sepanjang tahun 2008 saja, tidak ada satu bulan yang bebas dari bencana terkait perubahan iklim di negeri ini. Berbagai bencana yang terkait dengan perubahan iklim datang silih berganti di berbagai wilayah Indonesia, menewaskan ratusan korban  jiwa, dan menyebabkan kerugian finansial triliunan rupiah.

Besarnya kerugian yang harus ditanggung Indonesia akibat berbagai bencana ini seharusnya menjadikan perubahan iklim sebagai  masalah penting yang harus segera ditangani secara serius oleh pemerintah, kelambanan pemerintah dalam mengatasi masalah ini akan mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar, bukan cuma kerugian yang memakan korban jiwa, tetapi juga kerugian finansial yang luar biasa besarnya. Dalam jangka pendek upaya mengatasi perubahan iklim, memang tampak seolah-olah akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, tetapi jika pemerintah tak segera mengambil langkah nyata untuk mengatasinya, maka dalam jangka panjang kerugian yang harus ditanggung oleh negeri ini akan jauh lebih besar dibanding jika pemerintah mengambil langkah kongkret sesegera mungkin.

Komitmen politik pemerintah sangat dibutuhkan

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Indonesia, datang dari dua sektor utama, yaitu sektor kehutanan dan sektor energi.  Sektor kehutanan berkontribusi sebesar 75% dari total emisi gas rumah kaca yang diproduksi Indonesia, sementara sektor energi dan transportasi menyumbang  25% sisanya.

Saat ini Indonesia berada di peringkat ketiga, negara pengemisi gas rumah kaca terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Deforestasi  massif dan pembukaan lahan gambut menyebabkan Indonesia berada pada posisi memalukan ini.

Tahun 2007 lalu, Indonesia bahkan mencatatkan rekor  di Guinnes Book of Records sebagai negara dengan laju penggundulan hutan tercepat didunia,  dengan kecepatan penggundulan hutan sebesar 1,8 Juta  hektar pertahun, atau setara dengan luas 300 lapangan bola dalam satu jam. 

Kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia  terutama sekali diakibatkan oleh pembukaan hutan alam dan lahan gambut secara besar-besaran untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit, industri pulp and paper, dan pertambangan yang beroperasi di areal hutan lindung.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh Indonesia. Bahkan, pada tahun 2007, Indonesia menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim dunia di Bali, dalam kesempatan itu SBY berjanji bahwa Indonesia akan segera mengambil langkah nyata dalam mengurangi emisi gas rumah yang dihasilkan Indonesia, baik dari sektor hutan maupun sektor energi.

Terakhir pada pertemuan G8 di Jepang, akhir tahun lalu, SBY kembali mengulang komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia, terutama dari sektor kehutanan. SBY berjanji pada tahun 2009 emisi gas rumah kaca dari sektor hutan akan berkurang sebesar 50%, lalu pada tahun 2012 akan berkurang sebesar 75%, dan akhirnya pada tahun 2025, emisi gas rumah kaca Indonesia dari sektor kehutanan akan berkurang sebesar 95%.

Namun, sampai sejauh ini komitmen yang disampaikan oleh Presiden SBY belum juga direalisasikan. Berbagai kebijakan yang diambil oleh jajaran kabinetnya, justru meremehkan Komitmen SBY yang disampaikan dalam berbagai forum dunia.  Kebijakan paling anyar datang dari Menteri Pertanian yang mengijinkan pembukaan lahan gambut untuk kelapa sawit, kebijakan ini jelas sekali meremehkan komitmen SBY untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di negeri ini. Karena dengan mengijinkan pembukaan lahan gambut untuk industri, sama artinya dengan  sengaja melepaskan cadangan besar gas rumah kaca yang selama ini tersimpan dalam lahan gambut.

Selain itu, rencana pemerintah untuk membangun PLTU batubara secara besar-besaran di seantero negeri ini,  semakin menunjukkan bahwa komitmen yang disampaikan oleh SBY, hanya sekedar retorika zonder aksi. Sebelum tahun 2010, Pemerintah akan membangun 35 PLTU batubara baru di seluruh Indonesia. Sementara sudah jadi kesadaran dunia dewasa ini, bahwa batubara adalah bahanbakar fosil terkotor, yang merupakan penyumbang dominan gas rumah kaca di dunia. Artinya, dengan menyetujui pembangunan PLTU secara besar-besaran,  Pemerintah SBY secara sengaja meremehkan sendiri komitmen yang dibuatnya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari Indonesia

Langkah Nyata yang Dibutuhkan Untuk Mengatasi Krisis Iklim

Melihat semakin seringnya intensitas bencana alam akibat perubahan iklim, maka sudah tiba saatnya bagi pemerintah untuk mengambil langkah kongkret dalam mengatasi krisis iklim, retorika tak ada  gunanya untuk mengatasi krisis ini.

Pada  sektor kehutanan, pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dan nyata untuk segera menghentikan penggundulan hutan besar-besaran yang terjadi di berbagai wilayah negeri ini, mulai dari Riau, Kalimantan dan Papua. Moratorium penggundulan hutan tak bisa ditunda-tunda lagi, jika langkah ini tak diambil segera, maka Indonesia bukan hanya akan mendapat julukan sebagai kontributor terbesar gas rumah kaca dunia, tetapi yang lebih parah lagi, negeri ini akan semakin sering mengalami berbagai bencana alam yang terkait iklim.

Pada sektor energi pemerintah, harus segera menghentikan ketergantungannya terhadap penggunaan batubara sebagai sumber energi. Sebagai energi terkotor dan menyebabkan biaya eksternalitas yang luar biasa besar, batubara seharusnya sudah tidak punya tempat lagi dalam sistem tata kelola energi nasional.

Untuk pemenuhan kebutuhan energi negeri ini, Indonesia punya potensi energi bersih yang luar biasa besar, tetapi ironisnya sampai sejauh ini belum juga dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah. Potensi energi bersih ini seperti disia-siakan begitu saja, padahal sebagai negara yang terletak di “ring of fire”, Indonesia mempunyai cadangan panas bumi yang berlimpah, sekitar 40% dari total cadangan panas bumi dunia, ada di Indonesia. Belum lagi berbagai potensi lain seperti energi mikrohidro, angin,biomassa, dan surya yang potensinya sangat besar untuk dikembangkan.

Sekarang  yang paling dibutuhkan adalah komitmen dan keberanian politik pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah nyata dalam mengatasi perubahan iklim sekaligus membuktikan komitmen yang sudah dibuat. Kini saatnya bagi pemerintah SBY untuk bertindak, sudah  bukan waktunya lagi untuk beretorika. Saatnya membuktikan janji, dan jadi pemimpin dalam mengatasi krisis iklim ini.

Ditulis dalam Perubahan Iklim | 1 Komentar »