Dagelan Pilkada Jakarta
Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada Juni 8, 2007
Sepekan belakangan ini atmosfer politik di DKI Jakarta menghangat, bergerak dengan cepat, semakin memuakkan. Para politisi dari hampir seluruh partai politik, semakin menunjukkan kepada kita bahwa mereka memang golongan orang-orang yang sulit untuk dipercaya. Sukar untuk dipegang kata-katanya.
Beberapa hari ini, saya terkaget-kaget dengan move-move politik mereka, karena kali ini adalah pilkada untuk ibu kota negeri ini, maka yang melakukan move-move politik bukan hanya para politisi kelas lokal saja, tapi juga melibatkan pucuk-pucuk pimpinan di seluruh partai politik.
Mulai Gus Dur dari PKB, Sutrisno Bachir dari PAN, Tifatul Sembiring dari PKS, dan tentunya banyak lagi para pemimpin parpol lain seperti dari PDI-P, Golkar, Partai Demokrat, dan lain-lain. Mereka bergerak bagai hantu. Bermanuver Demi kue kekuasaan, soal rakyat, nomor kesekian, itu yang saya bayangkan ada di benak mereka.
Bagaimana saya tak terkejut dengan perkembangan yang begitu memuakkan ini, awalnya saya masih percaya bahwa di tengah belantara politisi busuk negeri ini, masih ada partai yang bisa kita percaya, masih ada tokoh yang bisa kita dengar suaranya, masih ada secercah harapan setidaknya. Tapi, apa boleh buat, kepercayaan saya itu kini hilang, hilang dengan sempurna.
Kekagetan saya diawali dengan mundurnya, Sarwono Kusumaatmaja-Jeffrie Geovanie, salah satu calon pasangan yang sudah digadang-gadang sejak awal oleh sekelompok partai politik yang dimotori oleh PKB dan PAN, kelompok yang mereka sebut sebagai “poros solusi”.
Ironisnya, PAN sebagai pihak pertama yang paling bersikukuh untuk menjagokan Sarwono-Jeffrie, menjadi pihak yang pertama juga berkhianat terhadap pasangan ini, Partai yang didirikan Amien Rais, dan beberapa pelopor reformasi ini, mundur ketika peluit akhir hampir dibunyikan. Ketika pendaftaran calon tinggal dua hari lagi.
Alasan yang disampaikan PAN kepada pers dan masyarakat ketika menarik dukungannya dari pasangan ini adalah karena ketidak berhasilan Sarwono-Jeffrie mendapat dukungan 15% suara dari parpol sebagai syarat untuk maju dalam Pilkada DKI.
Saya sama sekali bukanlah pendukung pasangan Sarwono-Jeffrie, saya bahkan tak tercatat sebagai pemilih dalam Pilkada DKI, karena KTP saya, KTP Bandung, bukan Jakarta. Namun saya bisa merasakan betapa kecewanya dua orang ini, itu nampak betul dari mimik dan gestur wajah Sarwono dan Jeffrie ketika menyampaikan pengunduran diri mereka kepada pers.
Bagaimana tidak kecewa, mereka berdua yang sudah digadang-gadang sebagai calon alternatif, dari “poros solusi”, sebagai pasangan yang diharapkan memberi warna dalam pilkada ini, namun mereka justru ditinggalkan ketika semangat mereka sedang begitu membuncah, dua hari menjelang penutupan pendaftaran calon.
Mereka tentu sudah mengeluarkan berbagai daya upaya untuk bisa dikenal masyarakat Jakarta. Sarwono beberapa bulan terakhir ini aktif memperkenalkan diri ke publik dengan menghadiri berbagai acara yang diselenggarakan kalangan akar rumput. Mulai dari kerja-bakti jumat bersih sampai menghadiri acara-acara lingkungan yang diadakan di kampung-kampung.
Sementara Jeffrie, sebagai pengusaha muda sukses, yang selama ini dikenal sebagi penyokong dana PAN, tentu telah mengeluarkan banyak biaya untuk mempersiapkan pencalonannya.
Jeffrie, tak pernah tanggung-tanggung dalam hal memasarkan dirinya, kita bisa lihat betapa banyaknya dana yang Ia keluarkan ketika ia bersaing sebagai calon Gubernur Sumbar pada pilkada tahun lalu, pencalonannya ini juga disokong PAN, indikator dari besar dana yang dikeluarkannya adalah intensitas iklan dirinya di televisi nasional menjelang Pilkada Sumbar setahun lalu, hampir di semua stasiun televisi ada iklan tentang pencalonannya.
Tapi apa boleh buat, PAN sebagai basis dukungan yang mereka harapkan ternyata tak bisa dipercaya, PAN justru seperti menikam teman seiring, disaat terakhir justru mengalihkan dukungannya pada Fauzi Bowo-Prijanto.
Kemudian kejadian lain yang membuat saya begitu tekejut adalah : belum lagi beberapa jam Sarwono-Jeffrie mengumumkan pengunduran dirinya, tiba-tiba saja PKB dan PAN mengumumkan sikapnya mereka, meski tak secara resmi, bahwa mereka mengalihkan dukungannya kepada Agum Gumelar yang akan disandingkan dengan Didik J Rachbini untuk maju dalam pilkada ini.
Tak tanggung-tanggung, Gus Dur sendiri, Ketua Dewan Syuro PKB yang mengumumkannya dalam jumpa pers bahwa PKB dan Poros Solusi akan mencalokan Agum-Didik. Bahkan kiai tua ini mengklaim bahwa pasangan Agum-Didik didukung oleh 17% suara parpol.
Namun ternyata janji-janji manis dari “poros solusi” ini hanya sekedar angin surga, karena beberapa jam menjelang penutupan pencalonan Gubernur DKI, tiba-tiba saja, lagi-lagi PAN memainkan jurus mautnya, jurus berkhianatnya, PAN secara mendadak mengalihkan dukungannya pada pasangan Fauzi Bowo-Prijanto.
Terus terang saya bingung, dengan apa yang ada dalam benak pimpinan partai ini, buat saya mereka sama sekali tak punya integritas, manuver politik mereka kelewat busuk, dan ini membuat saya menyesal pernah mencoblos partai ini dulu, tapi sudahlah nasi telah jadi bubur.
Langkah pengecut PAN ini ternyata juga diikuti PKB, meski beberapa jam sebelum penutupan pendaftaran calon, Yeni Arifah, putri Gus Dur yang menjadi Sekjen PKB, telah menjamin bahwa mereka akan mendukung Agum-Didik, namun disaat-saat terakhir, PKB seperti bersirkus, mereka tiba-tiba mengalihkan dukungannya pada Fauzi-Prijanto, lagi-lagi kita ditunjukkan dengan realitas bahwa tidak ada politisi negeri ini yang bisa dipegang komitmennya, semua bermanuver demi kepentingan masing-masing, demi kue kekuasaan, pelajaran moralnya : don’t trust any politician, don’t trust any political party..
Ternyata manuver busuk bukan hanya monopoli PAN dan PKB, partai lainpun tak lepas dari ini, mungkin ini memang sudah sifat dasar dari politik, sikap alami para politisi, tak peduli dari partai manapun, dan apapun “ideologi” nya, ketika sudah masuk ranah politik “ustadz” bisa berubah menjadi “maling”, ” pendeta” bisa berubah menjadi “garong”, sedih melihatnya.
PKS yang melihat perubahan konstelasi politik yang begitu cepat, segera mengeluarkan sikapnya, bahwa mereka mungkin akan menunda pencalonan Adang-Dani, alasannya agar Pilkada DKI bisa berjalan dengan sehat, tidak sekedar 2 calon pasangan saja. Karena menurut peraturan Pilkada, jika hanya ada satu calon yang maju, maka Pilkada bisa ditunda, PKS ingin agar muncul calon lain. Tak sekedar Adang-Dani versus Fauzi-Prijanto.
Sikap PKS ini segera ditanggapi oleh kubu Fauzi Bowo-Prijanto, mereka mengumumkan bahwa untuk mengantisipasi penundaan pencalonan Adang-Dani yang bisa mengakibatkan penundaan Pilkada, maka mereka akan memajukan calon pendamping, atau dengan kata lain mereka akan memajukan calon boneka, sekedar untuk memuluskan pencalonan Fauzi-Prijanto.
Busyet, apalagi yang lebih busuk dari ini, sekedar untuk memuluskan pencalonan Fauzi-Prijanto mereka mau melakukan cara apa saja, bahkan mereka tak malu-malu mengumumkan akan memajukan “calon boneka”, saya ingat cara-cara ini sering dipakai di kampus saya oleh salah satu kelompok mahasiswa untuk memuluskan pencalonan jago mereka dalam pemilihan Ketua BEM, hal ini dilakukan karena kelompok lain sudah malas mencalonkan jagonya, maka untuk mempermanis pemilihan, dimajukanlah calon boneka, saya sungguh tak tahu apa yang ada dalam benak calon boneka itu, mau-maunya mereka dibodoh-bodohi, dijadikan sekedar boneka, entah apa yang dijanjikan pada mereka, biasanya sih yang dijanjikan adalah surga, hahahah. Anda tentu kelompok mahasiswa mana yang saya maksud.
Heheh Sayangnya ternyata sikap PKS tak bertahan lama, lemah hati sudah jadi penyakit umum di negeri ini, konsistensi sikap Cuma mimpi disini, 4 jam menjelang penutupan pendaftaran calon, justru PKS yang lebih dulu mendaftarkan pasangan Adang-Dani, mendahului pendaftaran Fauzi-Prijanto. Hehehe , ternyata ancaman dari PKS Cuma ancaman anak kecil belaka.
Dua jam kemudian pasangan Fauzi-Prijanto, didampingi oleh partai-partai pengusungnya datang mendaftarkan pencalonan mereka, ini menandai berakhirnya drama politik pra pilkada ini, Pilkada DKI akhirnya hanya memunculkan dua calon, Adang-Dani dan Fauzi-Prijanto.
Pencalonan dua orang ini berarti menutup harapan masyarakat agar diperbolehkannya muncul calon independen dalam Pilkada DKI, masyarakat DKI hanya mempunyai dua pilihan, pilihan yang sama-sama tak menjanjikan.
Dan Dagelan Pilkada DKI akan terus berlanjut, kita jadi saksinya, pertanyaan saya, masih maukah anda meluangkan waktu ke TPS untuk memilih politisi-politisi dengan kualitas seperti ini ?? saya sendiri tidak!! Apa yang bisa diharapkan dari mereka?? Kelak mereka akan menipu kita juga.
Carlos berkata
hooooiiiiii
you know who berkata
wah telat bacanya.
rif, beberapa jam sebelum pendaftaran ditutup, Agum Gumelar (kabarnya) ditelpon oleh Istana. Beliau disarankan untuk tidak maju karena akan memecah suara Foke. Kabarnya, Agum dijanjikan duta besar. Entahlah benar tidaknya. Jika benar harga Agum hanya sekelas duta besar, saya jelas sangat kecewa. Oh ya, info ini didapat dari sang kiai tua.
Best,
jakfar berkata
salam!
tulisan ini cukup menarik dan bisa menjad bahan diskusi untuk pilkada lain yang akan masih terus berlangsung.