Selasar

Kumpulan tulisan, igauan, dan mimpi-mimpiku

Abdul Kodir, Penjaga Benteng Terakhir Hutan Jakarta

Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada Mei 29, 2007

Abdul Kodir, Penjaga Benteng Terakhir Hutan Jakarta Buat warga Jakarta,  Condet tentu bukanlah nama yang asing. Terletak di belahan timur ibu kota, Condet sejak dulu terkenal sebagai daerah yang mayoritas dihuni oleh penduduk beretnis Betawi, selain itu Condet juga dikenal sebagai daerah penghasil utama buah-buahan  di ibu kota.

Pemerintah DKI pada tahun 1974 meresmikan Condet sebagai daerah cagar budaya untuk perlindungan buah-buahan dan tanaman. Pada saat itu sebagian besar penduduk Condet masih berprofesi sebagai petani perkebunan, buah salak dan duku merupakan primadona Condet dimasa itu, salak dan duku yang dihasilkan daerah ini terkenal dengan rasanya yang spesial, konon salak Condet mempunyai rasa yang lengkap, ada salak yang manis, asam, atau campuran asam-manis.  

Namun, seiring dengan waktu, geliat pembangunan Jakarta tak bisa dihindari mulai menyentuh Kawasan Condet, sejak awal 1980-an mulai banyak terjadi peralihan peruntukan lahan dari yang awalnya tanah perkebunan menjadi pemukiman penduduk.

Banyak pendatang dari berbagai pelosok Jakarta yang pindah ke Condet, sebagian karena tergusur, sebagian lagi karena menganggap Condet mempunyai lingkungan yang lebih sehat dibanding wilayah Jakarta yang lain.

Sejak itu harga tanah di Condet mulai merangkak naik, banyak pemilik tanah yang tergoda untuk menjual tanahnya, sebagian besar dari mereka yang berprofesi sebagai petani  beralih menjadi pedagang atau buruh karena tak ada lagi tanah yang bisa digarap.

Peralihan peruntukan lahan yang tak terkendali, tak urung berdampak pada kondisi bantaran Kali Ciliwung di Condet yang kian hari kian mengkhawatirkan. Pendangkalan sungai mulai tampak jelas. Jika hujan turun cukup lebat maka air akan meluap menggenangi kebun penduduk.

Pada masa-masa itulah, Abdul Kodir, seorang pemuda asli Condet tumbuh dan mengikuti perkembangan tanah kelahirannya.

Bang Kodir, begitu biasa Ia dipanggil, mengisahkan keprihatinannya akan perkembangan tanah kelahirannya mulai muncul ketika pada awal 1990-an dia membaca sebuah buku statistik yang diterbitkan kelurahannya, disitu dia melihat data tentang peralihan luas lahan dari perkebunan menjadi perumahan.

Kemudian Ia membaca juga buku statistik kelurahannya yang diterbitkan pada awal 1980-an, ketika dia membandingkan data di kedua buku tersebut, Ia sangat terkejut melihat peralihan peruntukan lahan dari perkebunan menjadi perumahan yang luar biasa besar hanya dalam tempo sepuluh tahun.

Sejak itu hatinya tergerak untuk memperbaiki kondisi lingkungan Condet, tanah kelahirannya.  Diatas lahan milik orang tuanya di bantaran Kali ciliwung yang seluas kurang lebih 7000 M2, Ia mengajak beberapa warga  di sekitarnya untuk mulai meperbaiki lingkungan mereka, Ia beserta teman-temannya mulai memelihara dan menanami lahan itu dengan berbagai tanaman yang khas Condet, seperti salak dan duku.

Namun, malang tak dapat ditolak, ketika semangat mereka sedang begitu membuncah, tiba-tiba saja pada awal 1996, banjir besar menghantam Jakarta. Condetpun tak lepas dari sergapannya, lahan yang sudah mereka tanami dan hampir mereka nikmati hasilnya itu hancur seketika, dalam semalam air bah menerjang semuanya. Tak ada yang tersisa kecuali lumpur tebal yang menimbun tanaman mereka.

Sejak itu satu persatu rekan-rekan Bang Kodir yang tadinya begitu bersemangat, mundur, mungkin putus asa, mungkin juga kecewa melihat apa yang selama bertahun-tahun mereka pelihara, hancur seketika tanpa menyisakan apapun. Sedikit banyak rasa kecewa ini juga menghinggapi Bang Kodir, Ia sempat menghilang beberapa tahun dari tanah kelahirannya, merantau ke pulau seberang. ”bekerja di hutan Sumatera”, katanya.

Namun, ternyata rasa tanggung jawab untuk  memperbaiki lingkungan  kampung halamannya jauh lebih besar dari rasa kecewanya. Hanya beberapa tahun di Sumatera, Ia akhirnya memutuskan kembali ke Condet, kampung halamannya.

Sekembalinya di Condet, Lelaki yang kini berusia hampir 40 Tahun ini, kembali memulai upaya untuk memperbaiki kondisi Condet, mulai dari tanah ayahnya sendiri. Dia mulai aktif pergi kesana-kemari, meminta dukungan untuk memperbaiki lingkungan Condet.

Satu hal yang dia resahkan selama ini, adalah tidak adanya perhatian dari kalangan akademisi dan peneliti terhadap Kawasan Condet, padahal sejak dikukuhkan sebagai Cagar Alam Budaya, pada tahun 1974, semestinya para akademisi, dan peneliti sudah tahu bahwa Condet memiliki beragam kekayaan alam yang jika dipelajari dan dilestarikan akan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi ilmu pengetahuan.

Perlahan-lahan Bang Kodir beserta rekan-rekannya yang kali ini sebagian besar berasal dari luar Condet mulai dapat membenahi lahan ayahnya yang seluas 7000 M2 itu, lahan yang dulunya terbengkalai, kini nampak teratur, asri, dan hijau kontras dengan lahan-lahan lain disekitarnya yang menjadi tempat timbunan sampah.Pada akhir tahun 2005, Bang Kodir beserta beberapa rekannya membentuk suatu wadah yang mereka sebut sebagai Wahana Komunitas Lingkungan Hidup, wadah ini mereka harapkan dapat menjadi alat perjuangan untuk menyelamatkan hutan terakhir di kawasan Condet.

Condet sendiri secara administratif terbagi menjadi tiga kelurahan, Balekambang, Kampung Tengah, dan Batu Ampar.Saat ini sebagain besar lahan dari daerah cagar alam budaya ini telah beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Jika dibandingkan dengan dua kelurahan lain, maka Kelurahan Balekambang merupakan wilayah dengan areal terbuka hijau yang tersisa paling besar, mencapai 80%, sementara Kampung Tengah dan Batu Ampar masing-masing 5% dan 20%.Buah salak dan duku sudah semakin langka di Condet, suatu ketika mungkin anak-anak Condet hanya akan mendengar cerita tentang lezatnya buah Salak Condet.

Tanpa bisa merasakan seperti apa rasa sesungguhnya.Abdul Kodir berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang jelas mengenai Condet dan wilayah konservasi lainnya, tidak seperti saat ini dimana kebijakan yang dikeluarkan tak pernah jelas apa maksud dan tujuannya.Sekilas terlihat semangatnya yang tetap menyala untuk mempertahankan hutan terakhir di tanah kelahirannya, mungkin juga salah satu dari yang terakhir di Jakarta.

Semangatnya mungkin tergambar dalam sebuan spanduk kusam yang tertempel di tembok yang membatasi lahannya dengan rumah penduduk  Spanduk itu bertuliskan ”Hutan pertahanan akhir negara”.

Diatasnya ada sebuah potongan kayu tertempel, bertuliskan : Selamatkan yang tersisa!!! Dibawah spanduk itu tertempel juga selembar Bendera Merah Putih yang sudah pudar warnanya, putihnya sudah kusam, merahnya sudah pendar.

Sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadi penjaga benteng terakhir hutan di Ibu Kota. Abdul Kodir, semoga kamu bisa. 

Depok 16 Mei 2007 

Satu Tanggapan ke “Abdul Kodir, Penjaga Benteng Terakhir Hutan Jakarta”

  1. DADANG MUNGGANG berkata

    DIDING LANJUTKAN PERJUANGAN MU MELESTARIKAN SALAK & DUKU CONDET KITE…
    OKE…!!!!

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>