Selasar

Kumpulan tulisan, igauan, dan mimpi-mimpiku

Indonesia dan Perubahan Iklim

Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada April 26, 2007

 Climate Change Impacts in Indonesia

Isu perubahan iklim mulai mendapat perhatian dunia sejak diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brazil, pada tahun 1992.Pada pertemuan itu para pemimpin dunia sepakat untuk mengadopsi sebuah perjanjian mengenai perubahan iklim yang dikenal dengan Konvensi Perubahan Iklim PBB atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Tujuan utama dari konvensi ini adalah untuk menjaga kestabilan emisi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang aman sehingga tidak membahayakan sistem iklim bumi. Konsentrasi emisi gas rumah kaca di atmosfer yang tak terkendali adalah penyebab terjadinya perubahan iklim secara global.

Di Indonesia sendiri, isu perubahan iklim belakangan ini mulai mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan.

Laporan  para ahli perubahan iklim yang tergabung dalam IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang dipublikasikan pada awal april ini, menjadi salah satu pemicu munculnya kesadaran berbagai kalangan terhadap ancaman perubahan iklim di negeri ini.

Laporan yang bertajuk Climate Change Impacts, Adaptation, and Vulnerability menunjukkan ancaman-ancaman perubahan iklim yang sudah terjadi dan  diperkirakan akan terjadi di masa depan.

Selain itu, posisi Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim tahunan yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada akhir tahun ini, mau tidak mau mewajibkan pemerintah untuk meningkatkan perhatian dan kesadarannya terhadap isu ini. 

Ancaman perubahan iklim di Indonesia

Sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap ancaman dan dampak dari perubahan iklim.

Letak geografis dan kondisi geologisnya menjadikan negeri ini semakin rawan terhadap berbagai bencana alam yang terkait dengan iklim. Menurut laporan IPCC, Indonesia diperkirakan akan menghadapi berbagai ancaman dan dampak dari perubahan iklim. 

Kenaikan permukaan air laut, meluasnya kekeringan dan banjir, menurunnya produksi pertanian, dan meningkatnya prevalensi berbagai penyakit yang terkait iklim merupakan beberapa dampak perubahan iklim yang sudah dan akan terjadi di Indonesia.

Sebagian besar, kota-kota di negeri ini yang berpenduduk padat berada di daerah pesisir pantai. Kota-kota ini beberapa dekade mendatang terancam akan tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.

Penelitian yang dilakukan oleg Gordon Mc Grahanan dari International Institute for Environment and Development, Inggris menemukan bahwa sekitar 10% dari total penduduk bumi yang bermukim sekitar 10 meter dari pinggir pantai terancam akan tenggelam ketika es di kutub mencair akibat perubahan iklim.

Jakarta, Makassar, Padang, dan beberapa kota di Jawa Barat akan tenggelam beberapa dekade mendatang, jika kita merujuk pada penelitian ini.

Menurunnya produksi pangan akibat gagal panen yang disebabkan oleh banjir dan kekeringan juga diperkirakan akan semakin sering terjadi, beberapa daerah di bagian timur Indonesia seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang paling rawan terhadap ancaman ini.

Meningkatnya suhu memicu peningkatan prevalensi beberapa penyakit yang terkait iklim seperti malaria, diare, dan penyakit saluran pernapasan.Untuk kasus malaria, peningkatan suhu menyebabkan nyamuk, vektor malaria, yang sebelumnya hanya hidup di daerah rendah, kini dapat hidup di daerah dataran tinggi yang sebelumnya bebas malaria. Hal ini menyebabkan peningkatan penyakit malaria di berbagai daerah di Indonesia.

Kelangkaan air bersih akibat kekeringan dan merembesnya air asin karena kenaikan permukaan air laut, memicu peningkatan penyakit diare di masa depan.

Apa yang harus dilakukan

Melihat begitu luasnya berbagai dampak dari perubahan iklim yang akan terjadi di Indonesia, seluruh kalangan di negeri ini harus segera memulai upaya untuk mengatasinya.

Pemerintah, media, serta lembaga swadaya masyarakat harus segera mulai mensosialisasikan pada masyarakat luas berbagai hal yang terkait dengan isu perubahan iklim, baik mengenai dampaknya maupun upaya-upaya apa yang dapat dilakukan untuk menahan laju perubahan iklim di negeri ini.

Selama ini, dikenal ada dua upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Mitigasi atas perubahan iklim adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, ini dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fossil di berbagai sektor, dan perlahan beralih dari penggunaan energi tak terbarukan ke energi yang terbarukan dan bersih seperti energi panas bumi, surya, dan bahan bakar nabati.

Sedangkan adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan upaya penyesuaian yang dilakukan manusia  untuk menanggapi perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi akibat perubahan iklim.

Untuk Indonesia, upaya adaptasi atas perubahan iklim lebih mendesak dilakukan karena berbagai dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan di berbagai wilayah Indonesia, dan untuk mengatasinya tidak cukup hanya dengan upaya mitigasi belaka.

Sayangnya, sampai saat ini Indonesia belum mempunyai  data-data yang komprehensif mengenai perubahan iklim, sehingga masih sangat sulit untuk menyusun peta kerentanan dampak-dampak dari perubahan iklim.

Pemerintah seharusnya mulai serius untuk mengumpulkan data yang komprehensif tentang perubahan iklim, tentunya hal ini dapat berjalan secara efektif jika melibatkan seluruh lembaga-lembaga yang bidang kerjanya terkait dengan perubahan iklim. Tanpa tersedianya data-data perubahan iklim sebelumnya, maka  mustahil untuk menyusun strategi nasional yang efektif dalam mengatasi dampak dari perubahan iklim. 

13 Tanggapan ke “Indonesia dan Perubahan Iklim”

  1. asf berkata

    Paparan tentang Climate Change yang jelas.
    Terima kasih ya atas pencerahannya..

  2. Ajeng berkata

    Cmiiw…migitasi…itu tindakan preventif, adabtasi itu sebaliknya.

  3. Arif Fiyanto berkata

    Mba Ajeng yang baik,

    Mitigasi adalah upaya kita untuk mengurangi penyebab-penyebab perubahan iklim, tidak sepenuhnya preventif, tapi juga kuratif. Sementara Adaptasi adalah respons kita terhadap dampak-dampak yang sudah dan akan terjadi.

  4. Mawardi berkata

    Mitigasi dan adaptasi keduanya diperlukan dalam menyikapi perubahan iklim.Yang perlu didorong itu adalah sikap pemerintah kita yang kurang/tidak tegas dalam penegakan hukum terhadap oknum dan perusahaan yang telah ikut berperan dalam terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

  5. luthfia berkata

    pengaruh perubahan iklim global terhadap unsur-unsur iklim apa sih?

  6. [...] Benarkah 2000 pulau akan tenggelam? • Tentang perubahan iklim Indonesia • Berita dari Republika • Pembentukan dan penghancuran bumi • Indonesia salah satu paru-paru [...]

  7. Dadang Sudardja berkata

    Kita tidak bisa terlalu banyak berharap dari pemerintah yang sedang berkuasa saat ini. Karena rejim saat ini adalah perpanjang tangan dari kapitalis dan comparador asing yang nota bene mereka menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim. Yang pasti berbuatlah dari mulai lingkaran terkecil.

  8. rian's berkata

    Climate change???? kita merasakan akibat dari ulah kita sendiri…..lebih-lebih OKNUM yang sangat biadab membuat kita berada di neraka kecil,,,,,,sudah sebijaknya pula lah kita merubah gaya hidup kita yang konsumtif…..mulai hemat energi, jangan sia-siakan energi….dunia ini adalah titipan anak cucu kita bukan warisan

  9. Koko Widayatmoko berkata

    Saya heran, kok tidak ada yang membahas mengenai tambahnya air laut yang diakibatkan oleh pencairan es di Kutub.
    Kalau Pak Emil Salim mengatakan sudah ada 2 pulau kita yang tenggelam, berarti paling tidak ada tambahan air laut setinggi 40 centimeter. Tambahan ini kalau di kalikan dengan luas Samodra Indonesia dan Laut Jawa dan Samodra Pasifik yang berjuta-juta meter persegi itu, akan menunjukkan berjuta-juta meterkubik tambahan air laut, alias berjuta-juta ton muatan baru bagi kerak bumi disekitar Indonesia, yang mengapung diatas magma.
    Jadi pasti akan menyebabkan perobahan keseimbangan berbagai bagian kerak bumi disekitarnya. Akibatnya sudah kita rasakan, yaitu gempabumi-gempabumi yang aneh-aneh, seperti di Bengkulu, yang pindah-pindah lokasi (Jambi, Muko-Muko, dsb) atau yang intensitas gempa-susulannya malah lebih besar (Jambi, Muko-Muko dan yang terakhir Sumbawa)dan gunung-gunung berapi yang meletus karena magmanya yang tertekan akan cari jalan keluar (“mecothot dalam Bahasa Jawa) (Gunung Merapi, Kelut, Anak Krakatau, Lokon, dsb). Bahkan Gunung Kelud katanya juga aneh letusannya.
    Apakah Pemanasan Global hanya akan dibahas akibatnya pada Perubahan Iklim? Apakah tidak perlu dibahas akibat Perobahan Geografis tadi?.
    Ada lagi yang lebih serem. Katanya orientasi bumi terhadap Matahari yang berobah, juga bisa menyebabkan naiknya pemanasan bumi. Kalau kita memikirkan Bumi sebagai sebuah satelit yang tak berbobot sedang mengelilingi Matahari, lalu ada percobaan bom nuklir (malah sudah ada bom atoom di Nagasaki dan Hiroshima), yang boleh dikata seperti ada roket yang dinyalakan pada sebuah satelit. Apakah bom atoom di Nagasaki dan Hiroshima dan percobaan2 Bom Nuklir diatas permukaan tanah seperti itu tidak akan merobah orientasi Bumi?.
    Apakah para ilmuwan Indonesia tidak merasa perlu untuk meneliti dan membahas apa yang saya kemukakan tadi.
    Terimakasih atas perhatiannya.

  10. [...] di kota B. Berkurangnya populasi binatang dan serangga karena tidak dapat beradaptasi dengan iklim. Cuaca yang sering berubah secara drastis. Melelehnya es abadi di kutub magnet Bumi. Dan lainnya [...]

  11. skurnianto berkata

    mengenai mitigasi perubahan iklim, setelah COP di bali isu REDD (reduction emission from deforestation dan degradation) menjadi hangat dibicarakan. ini kesempatan bagi Indonesia untuk mendapatkan intensif dengan menjaga kondisi hutan kita.

  12. Iklim Indonesia berkata

    Iklim sekarang mulai berubah, cuaca jadi sulit di prediksi. Thanks infonya !

  13. alamendah berkata

    Salam kenal,
    Your Planet Needs You – UNite to Combat Climate Change
    http://alamendah.wordpress.com/2009/05/31/tema-hari-lingkungan-hidup-sedunia/

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>