Terorisme dan Keadilan Global
Ditulis oleh Arif Fiyanto di/pada April 19, 2007

Setelah keberhasilan Polri membekuk dan menewaskan salah seorang tersangka teroris Dr. Azahari, berbagai kalangan mulai dari pejabat pemerintah, pengamat, dan para pemuka agama mengeluarkan berbagai pernyataan serta analisa mengenai hal-ikwal terorisme.
Mereka mengeluarkan bermacam hipotesis tentang terorisme mulai dari latar belakangnya psikologi terorisme, sampai dampak-dampak kemanusiaan yang diakibatkan aksi terorisme.Tetapi, jujur saja, menurut saya sebagian besar analisa dan hipotesis yang disampaikan berbagai kalangan ini, hanya melihat dari satu persfektif, tanpa mencoba meninjau persfektif lain.
Tindakan terorisme menurut saya, tidaklah berdiri sendiri dan ahistoris, terorisme sebagai bentuk kejahatan yang terorganisir mempunyai logikanya sendiri, dan dilandasi berbagai argumen yang mau tak mau harus kita ketahui dan pelajari untuk mencari solusi mengatasi dan mengurangi aksi-aksi ini di masa depan.
Analisa yang paling mengemuka dan di percaya luas sebagai akar masalah dari terorisme adalah pemahaman akan ajaran agama yang menyimpang, atau dalam konteks islam, pemaknaan terhadap konsep jihad yang dipahami secara dangkal dan parsial.
Tetapi benarkah hanya itu akar masalah dari terorisme yang semakin meluas belakangan ini. Saya pikir jawaban tadi terlalu menyederhanakan masalah dan terlampau terburu-buru sebagai sebuah jawaban untuk pertanyaan besar tentang akar masalah terorisme.
Terorisme sebagai bentuk reaksi
Aksi terorisme yang makin sering terjadi di berbagai belahan dunia, menurut saya lebih sebagai sebuah bentuk reaksi daripada sebagai aksi. Kalau kita runut ke belakang, terminologi terorisme sendiri baru muncul belum lama ini, dengan makna eksplisitnya adalah setiap tindakan sekelompok masyarakat, etnis, atau individu yang melakukan aksi-aksi yang membahayakan peradaban dan kemanusiaan.
Terminologi teroris itu sendiri selalu digunakan dan dimonopoli oleh negara-negara barat, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Israel terhadap berbagai aksi perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang mengancam berbagai kepentingan mereka.
Sedangkan untuk berbagai tindakan penghancuran mereka terhadap Irak, Afganistan selalu mereka atasnamakan untuk kepentingan umat manusia, dan itu sama sekali tidak dianggap sebagai tindakan terorisme melainkan mereka anggap sebagai suatu usaha mulia untuk menjaga keamanan dunia dan peradaban manusia, tentunya ini versi mereka.
Noam Chomsky dalam bukunya ”Hegemony or Survival : America’s Quest for Global Dominance” menggambarkan dengan sangat baik paradoks ini dalam satu percakapan antara Alexander the great dengan seorang Kepala perompak : suatu ketika, setelah lama memburu kelompok perompak yang dianggap mengganggu keamanan wilayahnya, Alexander the great berhadapan muka dengan sang kepala perompak, dan terjadilah dialog sebagai berikut :
Alexander the great : Hai perompak kenapa kau melakukan berbagai perampokan dan pembunuhan yang kejam di wilayahku?
Kepala perompak : Lalu apa bedanya dengan kau Alexander the great? Kau lebih kejam dari aku, kau hancurkan berbagai wilayah demi kekuasaan kau, kau bunuh banyak orang tak berdosa, kau ciptakan banyak janda di muka bumi. Hanya karena kau punya ribuan balatentara maka kau disebut penakluk, sedangkan karena aku hanya mempunyai belasan orang anggota kau sebut aku pembunuh. Ketika memperbincangkan dan menganalisa terorisme kita tidak bisa melepaskannya dari kondisi politik internasional kontemporer .
Kita tidak bisa gegabah dan terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai akar permasalahan terorisme tanpa mencoba memahami berbagai permasalahan global dewasa ini. Tidak perlu menjadi pakar politik internasional, untuk mengetahui bahwa saat ini terjadi berbagai bentuk ketidakadilan global akibat tatanan dunia yang didominasi Amerika Serikat dan sekutunya. Berbagai aksi kekerasan di dunia oleh AS dan Sekutunya, terjadi begitu gamblang tanpa ada tindakan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghentikannya, bahkan untuk sekedar mengecamnya. Pendudukan—untuk tidak menyebut penjajahan—Amerika Serikat terhadap Afganistan dan Iraq merupakan salah satu contoh aksi terorisme yang terlembaga dan dilakukan negara, tanpa ada langkah dari PBB untuk menanggapinya.Belum lagi berbagai penindasan yang dilakukan oleh berbagai negara di dunia terhadap sebagian rakyatnya, beberapa contoh antara lain genosida etnis Chechen di Kaukasus oleh Rusia, penindasan etnis Uighur di Xin Ziang oleh China, pembersihan etnis Rohingnya di Myanmar, konflik yang berkepanjangan di Thailand Selatan antara etnis Pattani dan Pemerintah Thailand, konflik tanpa akhir antara pemerintah Filipina dengan etnis Moro di Filipina Selatan.
Masalahnya sekarang adalah hampir semua kasus-kasus yang menimpa kelompok etnis yang kebetulan muslim ini, tidak pernah mendapatkan perhatian yang signifikan dari PBB sebagai organisasi yang memayungi bangsa-bangsa di dunia, hampir semua kasus tersebut diisolir hanya sebagai isu internal di negara masing-masing, atau kasus separatisme di negara tersebut.
PBB sama sekali tak pernah melakukan reaksi yang dibutuhkan untuk menangani berbagai masalah di atas, bahkan sekedar kecaman atau kutukanpun tak pernah dilontarkan oleh lembaga bangs-bangsa ini. Sementara itu kalau kita bandingkan dengan reaksi PBB terhadap permasalahan yang terjadi di beberapa negara lain : tuntutan kemerdekaan Papua, gerakan separatisme Aceh merdeka, separatisme Republik Maluku Selatan, yang kesemuanya terjadi di Indonesia.
Kemudian konflik etnis yang terjadi di Darfur, Sudan. Perlawanan FIS terhadap rezim otoriter di Aljazair. Dan masih banyak contoh kasus lainnya. Untuk mengatasi masalah ini, PBB bisa dikatakan sangat proaktif bahkan cenderung reaktif dalam bersikap. Separatisme di Papua dan di Aceh yang jelas-jelas masalah internal Indonesia dianggap merupakan permasalahan yang harus dibawa ke forum internasional, Sudan langsung diberi ancaman akan dikenai Sanksi oleh DK PBB, karena pemerintahnya dianggap lamban dalam mengatasi konflik berkepanjangan di Darfur.
Jelas sekali standar ganda yang diterapkan PBB dalam menyikapi berbagai permasalahan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Disatu sisi PBB nampak seperti tak bergigi dan kurang responsif, sementara di sisi lain PBB sangat proaktif bahkan cenderung reaktif.
Berbagai ketidakadilan global inilah yang menurut saya menjadi pemicu aksi-aksi terorisme di berbagai belahan dunia.
Saya sepakat dengan Syafii Ma’arif bahwa aksi-aksi terorisme dilakukan oleh orang-orang yang frustrasi dalam menghadapi berbagai tekanan permasalahan kehidupan saat ini, menurut saya para pelaku tindak terorisme putus asa karena merasa bahwa mereka hanya sia-sia menunggu keadilan global ditegakkan, jadi langkah yang mereka ambil adalah dengan menegakkan keadilan dengan cara mereka sendiri.
Inilah yang membuat saya berkesimpulan terorisme dipandang sebagai bentuk reaksi oleh para pelakunya, untuk melawan ketidakadilan dunia yang benar-benar gamblang dan telanjang di depan mata, tanpa ada upaya internasional, dalam hal ini Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengatasinya.
Keadilan Global sebagai Solusi Penghapusan Terorisme
Berbagai pertemuan, dan konferensi yang diselenggarakan untuk mencari solusi penanganan terorisme hanya akan sia-sia saja, sepanjang tidak ada upaya sungguh-sungguh dunia internasional untuk menegak keadilan global.
Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mampu menjadi kekuatan yang benar-benar memayungi seluruh negara anggotanya, standard ganda yang selama ini diterapkannya dalam menyikapi suatu permasalahan harus segera disingkirkan jauh-jauh. Untuk itulah maka ide untuk mereformasi PBB merupakan usaha yang mau-tak mau harus segera dilakukan.
Negara-negara yang selama ini dikenal memiliki tradisi islam yang moderat seperti Indonesia dengan Islam modernisnya dan Malaysia dengan Islam Hadharinya harus mampu menjadi pelopor dan pengusung isu bagi ditegakkannya keadilan global.
Saya yakin jika upaya ini dapat dilakukan, maka secara perlahan tapi pasti tidak akan ada lagi aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama di masa depan.
Namun jika tidak ada upaya nyata untuk menghapuskan ketidakadilan global, maka sejarah kembali akan mencatat berbagai aksi terorisme di masa depan. Azahari boleh tewas, namun akan muncul Azahari-Azahari lain, selama ketidakadilan global masih eksis di bumi ini.
24 November 2005
erizeli berkata
Pertanyaannya adalah apa penyebab ketidak adilan global? Siapa aktor dan elite yang membuat PBB tidak berkutik untuk menegakan keadilan?
andriani rahmi berkata
ketidakadilan global….hmmm…kupasan yang bermakna bahwa keadilan telah menjadi hal yang sangat relatif….sampai tiba pada kebenaran Vs keadilan